Apa itu
pemimpin? Kenapa – mengapa kita harus punya pemimpin? Masing-masing orang
mempunyai sudut pandang. Pendukung dan penentang selalu datang seperti malam
dan siang. Dua sisi yang memberi nilai tambah; saling melengkapkan. Aduh,
kalimatku hampir seperti ucap nabi, berlagak bijak, menggurui, dan lupa diri. Haha.... biarkan, itulah sisi diriku yang manusiawi. Kusadari kemungkinan
membenarkan diri. Dasar bodoh! Bukan, manusiawi!. Wheek. Baiklah, lupakan
narasi tadi, sekadar pembuka agar tak langsung ke inti. Cuma itu? ya, begitu. Basa-basi
yang tidak penting! Haha. Apalah yang benar benar penting di dunia ini? Ada, pemimpin. Pemimpin
itu penting, gelarnya saja “ Si Orang Penting (SOP)”. Nah, pentingkan? Oh ya, kamu
pernah berurusan dengan pemimpin? Kata mereka, berurusan dengan pemimpin itu...
hmm, benar-benar penting urusannya. Ngomong-ngomong apa dulu makna penting? Aduh,
lupakan saja, masing-masing orang dapat membuat pembenarannya. Jadi? kita
sepakati saja apa makna yang kita rasa. Tanpa bicara. Lebih mudah, bukan?. Jadi,
pemimpin itu orang penting? Apakah pemimpin itu jahat? Menjadi pemimpin itu
salah? Menurutmu bagaimana? Ya, kalau menurutku, aku yang maha goblok namun sok
tahu, sombong, gila, dan rada bertingkah ini... pemimpin itu tak harus maha
suci serupa cerita dongeng. Boleh saja dia tak baik (menurut standar yang
berlaku umum) asalkan dia benar. Tunggu, standar benar itu bagaimana? Aduh,
serba keliru. Bodoh. Bodoh. Bodohnya aku. Baiklah, Pemimpin, ya sosok itu
bagiku—tentu saja karena tulisanku dan aku yang memikir (apakah aku benar-benar
memikir? Bagaimana kalau yang kuanggap pikiran hanyalah ilusi dari suara-suara
di kepalaku yang berasal dari sekalian macam informasi?) —bagiku dia boleh saja
sombong. Boleh narsis. Boleh nyentrik. Boleh arogan. Boleh pemalu. Boleh
perempuan. Boleh Remaja. Boleh sedikit gila. Boleh suka nyanyi di kamar mandi. Boleh
aneh … asalkan dia punya itikad baik dan kualitas kompetensi diri untuk menyejahterakan
masyarakat seutuhnya. Tidak setengah setengah. Bukan hanya suku dan golongan.
Seutuhnya. Bukan keluarganya saja, di sana
saja, dan atau mereka saja, seutuhnya. Seutuhnya. Titik. Meski sombong meski
gila kalau dia punya itikad baik dan kemampuan untuk menyejahterakan masyarakat
dengan sungguh sungguh, kenapa tidak.? Daripada berlagak malaikat ternyata
menyengsarakan rakyat? Mulut disuapi, punggung ditikami. Nah, bagaimana? Pokoknya,
bagiku, namanya pemimpin itu ya mampu mengayomi semuanya, seutuhnya. Titik. Tapi,
aku bingung adakah manusia yang mampu demikian? Dan aku bertambah bingung,
apakah menuliskan ini benar-benar penting bagiku? Dan lebih menambah bingung
lagi, apakah membaca ini merupakan hal yang benar-benar penting? Haha.*
K16062016 :
14:55