Senin, 07 November 2016

PENERIMAAN

Selalu dan selalu sepanjang waktu kaum bullshit di luar sana menasehati dirimu, memberi cuap-cuap manis yang ingin kamu dengar. Betapa lembut betapa menghilangkan dahaga kau mereguknya. Terlupa bahwa nasehat terbaik ada dalam dirimu, di hatimu. Dan kemudian kamu sadari (atau mungkin tidak sama sekali) bahwa semua yang disuapkan kaum bullshit itu hanyalah kepalsuan. Gelas pun tandas dalam kekecewaan.

Hidup itu pilihan. Jodoh harus diperjuangkan. Sukses harus dikejar. Pilihan hari ini menentukan nasib esok hari. Haha! Sampai kapan kita sedia belajar mengakui bahwa hidup bukanlah pilihan. Segala sesuatu telah dikondisikan dengan sempurna. Suatu kekuatan Maha Dahsyat yang mengkondisikan segalanya. Kukatakan padamu, hidup adalah tentang penerimaan yang dikondisikan. Pernahkah kita memiliki pilihan dalam hidup (dan mati)? Memilih terlahir sebagai apa, di mana, kapan, keadaannya, bagaimananya, dan sebagainya? Kalau saja bisa memilih, saat ini aku memilih menikmati senja sembari merokok dan menghirup segelas besar kopi di Pantai Lanikai - Hawaii. Namun, nyatanya aku ada di sini. Berada di rumah orangtuaku yang nyaman dan tenteram. Menuliskan basa-basi ini. Kalau bisa memilih, apa iya kamu memilih membaca tulisan ini ketimbang keinginan lainnya? Nyatanya saat ini kamu dikondisikan untuk membaca basa-basi ini. Bukankah begitu? Hihi. Bahkan, menerima tuhan atau menerima tidak bertuhan pun adalah pengkondisian, bukanlah pilihan. Ada rentetan sebab yang dikondisikan agar mengakibatkan demikian. Semua dimainkan mesra secara halus dan indah. Tanpa curiga. Diperdaya seolah-olah kita kuasa.

Hidup adalah penerimaan yang dikondisikan, sambutlah dengan cinta dan sukacita. Tertawa saja, mengalir saja. Tak perlu rencana ini itu. Bagaimana bisa kuharapkan setahun ke depan adalah kepastian sedang sedetik setelah ini belum kudapatkan. Biarkan semuanya mengalir. Apapun yang terjadi maka terjadilah. Kenikmatan hadir dalam misteri, hal-hal yang tidak pasti (kalau sudah pasti tentu tidak asik lagi). Terima, syukuri, dan nikmati. Di situlah keajaiban terjadi. *

1016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar