Sabtu, 29 Oktober 2016

KAU TAHU

Kau tahu, tiap manusia bagaikan dua sisi mata uang. Tersimpan sisi mulia dan gila dalam tiap jiwa-jiwa. Terkadang, aku ingin sekali menjadi jahat, pelit, egois, ganas dan mematikan. Namun, apalah daya aku tak mampu dan mungkin takkan pernah mampu. Cinta telah membuatku simpati pada manusia. Kepekaan rasa membuatku memahami hati mereka. Pemahaman membuatku kaya sudut pandang. Karenanya, banyak hal-hal yang kurahasiakan. Menyimpan rahasia-rahasia membuat kepalaku penuh suara, ditambah lagi pemahaman yang terus saja meluber dalam kepala.

Kau tahu, aku menulis karena cinta. Selain itu menulis kujadikan relaksasi. Sebentuk terapi. Kelak, mungkin akan kutumpahkan semua. Semoga saja. Namun, pelan-pelan ada proses dan masanya. Sekadar pengingat untuk kubaca. Pengukir tawa andai usia bertambah. *


291016

PEACH

Ada iblis dalam diriku
Ia pingsan dibelenggu
Ada penjaga saat sadarku
Menyeruak senyum palsu
Ada aku, kosong
Tak tahu


090916

HA HA!

Hidup masih saja serupa, koplak dan gila. Mendadak aku menjadi ulat. Bangun pagi. Ulat gemuk bulat. Tidak! Pasti ini mimpi. Aku tak bisa melompat! Aku tak bisa meloncat! Mimpi? Aku tak bisa melompat. Tak bisa meloncat. Tolong! De javu? Tubuhku berat. Ya sudah, aku berguling-guling.

Giling-giling. Giling-giling. Puji anjing kepalaku pusing. Akhhh....! Aku telanjang gemuk bulat. Hei… pakaianku mana? Siapa yang ambil? Mana? Beraninya! Tapi, untuk apa aku pakaian? Seekor ulat gemuk bulat berpakaian, aneh. Loh, aku kan malu, masak telanjang begini, setidaknya biar terlihat rapi. Sudah, telanjang saja. Aneh. Tunggu, aku ini siapa? Aku? Bukan, aku. Kamu... ulat gemuk bulat. Aku tahu, sebelumnya aku siapa, saat jadi manusia. Kamu tidak penting. Oh, jadi begitu. Baik. Lantas kamu ini siapa? Lupakan. Kenapa dilupakan? Sudah waktunya kita lupakan tentang aku. Namaku. Tempatku. Waktu. Sifatku. Semua itu membuat kaku. Membatasiku; tak membebaskan. Puji aku. Sudah waktunya kita menabrak batasan. Jangan! Kenali batasan. Marilah aku rayakan. Jangan! Ya, kurayakan sendiri. Percantik bukan persetan. Tak peduli, bukan setan. Hihi! Astaga!

Duh, hidup masih serupa, koplak dan gila. Membulat tawa. Pecah di udara. Amin.*


0616

AKU DAN DIA

Kaubilang kupaling mencintaimu
Kupikir padamu belum begitu
Kaubilang kupaling pahamimu
Kurenung sendiri aku bingung
Kaukata akulah keteduhan
Akuduga akulah terik gersang
Kaubilang tak mau aku hilang
Kita jumpa malah jarang
Kaubilang takut aku berubah
Akupikir bla ... bla ... bla ...
Kaubilang aku istimewa
Aku berpikir lalu tertawa
Ha ha! Kau merajuk
Kukira hanya mengada
Kausumpah benar adanya
Bibir diam tak bicara
Kepala diam tanpa suara
Suara sepi entah mana
Tak ada apa-apa
Memahami rasa

Kaubilang kupaling mencintaimu
Kurasa padamulah hati begitu


180616

Jumat, 28 Oktober 2016

PEMIMPIN

Apa itu pemimpin? Kenapa – mengapa kita harus punya pemimpin? Masing-masing orang mempunyai sudut pandang. Pendukung dan penentang selalu datang seperti malam dan siang. Dua sisi yang memberi nilai tambah; saling melengkapkan. Aduh, kalimatku hampir seperti ucap nabi, berlagak bijak, menggurui, dan lupa diri. Haha.... biarkan, itulah sisi diriku yang manusiawi. Kusadari kemungkinan membenarkan diri. Dasar bodoh! Bukan, manusiawi!. Wheek. Baiklah, lupakan narasi tadi, sekadar pembuka agar tak langsung ke inti. Cuma itu? ya, begitu. Basa-basi yang tidak penting! Haha. Apalah yang benar benar penting di dunia ini? Ada, pemimpin. Pemimpin itu penting, gelarnya saja “ Si Orang Penting (SOP)”. Nah, pentingkan? Oh ya, kamu pernah berurusan dengan pemimpin? Kata mereka, berurusan dengan pemimpin itu... hmm, benar-benar penting urusannya. Ngomong-ngomong apa dulu makna penting? Aduh, lupakan saja, masing-masing orang dapat membuat pembenarannya. Jadi? kita sepakati saja apa makna yang kita rasa. Tanpa bicara. Lebih mudah, bukan?. Jadi, pemimpin itu orang penting? Apakah pemimpin itu jahat? Menjadi pemimpin itu salah? Menurutmu bagaimana? Ya, kalau menurutku, aku yang maha goblok namun sok tahu, sombong, gila, dan rada bertingkah ini... pemimpin itu tak harus maha suci serupa cerita dongeng. Boleh saja dia tak baik (menurut standar yang berlaku umum) asalkan dia benar. Tunggu, standar benar itu bagaimana? Aduh, serba keliru. Bodoh. Bodoh. Bodohnya aku. Baiklah, Pemimpin, ya sosok itu bagiku—tentu saja karena tulisanku dan aku yang memikir (apakah aku benar-benar memikir? Bagaimana kalau yang kuanggap pikiran hanyalah ilusi dari suara-suara di kepalaku yang berasal dari sekalian macam informasi?) —bagiku dia boleh saja sombong. Boleh narsis. Boleh nyentrik. Boleh arogan. Boleh pemalu. Boleh perempuan. Boleh Remaja. Boleh sedikit gila. Boleh suka nyanyi di kamar mandi. Boleh aneh … asalkan dia punya itikad baik dan kualitas kompetensi diri untuk menyejahterakan masyarakat seutuhnya. Tidak setengah setengah. Bukan hanya suku dan golongan. Seutuhnya. Bukan keluarganya saja, di sana saja, dan atau mereka saja, seutuhnya. Seutuhnya. Titik. Meski sombong meski gila kalau dia punya itikad baik dan kemampuan untuk menyejahterakan masyarakat dengan sungguh sungguh, kenapa tidak.? Daripada berlagak malaikat ternyata menyengsarakan rakyat? Mulut disuapi, punggung ditikami. Nah, bagaimana? Pokoknya, bagiku, namanya pemimpin itu ya mampu mengayomi semuanya, seutuhnya. Titik. Tapi, aku bingung adakah manusia yang mampu demikian? Dan aku bertambah bingung, apakah menuliskan ini benar-benar penting bagiku? Dan lebih menambah bingung lagi, apakah membaca ini merupakan hal yang benar-benar penting? Haha.*

K16062016 : 14:55

CINTA

Cinta itu rendah hati
Cinta itu tak dipilih
Cinta itu memberi

Cinta itu menerbangkan
Cinta itu membebaskan
Cinta tiada keakuan

Cinta itu keihlasan
Cinta itu ketulusan
Cinta lepas dari keterikatan
Cinta itu sebuah senyuman


190616