Hidup masih
saja serupa, koplak dan gila. Mendadak aku menjadi ulat. Bangun pagi. Ulat gemuk
bulat. Tidak! Pasti ini mimpi. Aku tak bisa melompat! Aku tak bisa meloncat! Mimpi?
Aku tak bisa melompat. Tak bisa meloncat. Tolong! De javu? Tubuhku berat. Ya
sudah, aku berguling-guling.
Giling-giling. Giling-giling. Puji
anjing kepalaku pusing. Akhhh....! Aku telanjang gemuk bulat. Hei… pakaianku
mana? Siapa yang ambil? Mana? Beraninya! Tapi, untuk apa aku pakaian? Seekor
ulat gemuk bulat berpakaian, aneh. Loh, aku kan malu, masak telanjang begini, setidaknya
biar terlihat rapi. Sudah, telanjang saja. Aneh. Tunggu, aku ini siapa? Aku?
Bukan, aku. Kamu... ulat gemuk bulat. Aku tahu, sebelumnya aku siapa, saat jadi
manusia. Kamu tidak penting. Oh, jadi begitu. Baik. Lantas kamu ini siapa?
Lupakan. Kenapa dilupakan? Sudah waktunya kita lupakan tentang aku. Namaku.
Tempatku. Waktu. Sifatku. Semua itu membuat kaku. Membatasiku; tak membebaskan.
Puji aku. Sudah waktunya kita menabrak batasan. Jangan! Kenali batasan. Marilah
aku rayakan. Jangan! Ya, kurayakan sendiri. Percantik bukan persetan. Tak
peduli, bukan setan. Hihi! Astaga!
Duh, hidup masih
serupa, koplak dan gila. Membulat tawa. Pecah di udara. Amin.*
0616
Tidak ada komentar:
Posting Komentar